Minggu, 24 Januari 2010

DINASTI FATIMIYAH

A. PENDAHULUAN
Menengok kembali peristiwa sejarah peradaban Islam, maka Mesir dan Syiria merupakan propinsi timur tengah yang pertama tercakup ke dalam wilayah kekhalifahan muslim Arab, kedua wilayah ini ditaklukkan pada tahun 641. Pada periode khilafah Ummayah dan awal Abbasyiah, Mesir merupakan sebuah propinsi yang kurang penting dalam imperium Muslim akan tetapi sejak pertengahan abad ke Sembilan Mesir meunjukkan tanda-tanda awal untuk menjadi sebuah wilayah yang indevenden dimana tentara-tentara budak yang diangkat oleh khalifah mendirikan beberarapa dinasti yang berusia pendek kemudia pada tahun 969 Fatimiyah menaklukkan negeri ini dan mendirikan sebuah khilafah baru yang berlangsung hingga tahun 1171.
Dinasti Fatimiyah bukan hanya sebuah wilayah gubernuran yang indevenden melainkan juga rezim revolusioner yang mengklaim otoritas universal dan Fatimiyah mewakili otoritas politik Abbasyiah, mereka menegaskan bahwasanya Imam yang sebenarnya adalah Imam keturunan Ali yang berpaham Sy’iah . Pada masa dinasti ini pula berkembang faham Sy’iah terbukti bahwa ketika Muiz berhasil menguasai Mesir sedangkan Muiz sendiri menganut faham Syi’ah .
Lahirnya dinasti Fatimiyah di Mesir merupakan pusat peradaban Islam, pada masa ini banyak melahirkan kemajuan dan kontribusi pemikiran baik dibidang pemerintahan dan ilmu pengetahuan, maka dalam tulisan ini akan mengetengahkan beberapa permasalahan seputar Awal pembentukan dan perkembangan Dinasti Fatimiyah, kondisi sosial pada masa Dinasti Fatimiayah, Kemajuan dan kontribusi Dinasti Fatimiyah terhadap peradaban Islam serta Kemunduran dan kehancuran Dinasti Fatimiyah

B. DINASTI FATIMIYAH
1. Awal pembentukan dan perkembangan Dinasti Fatimiyah
Ketika Dinasti Abbasiah mulai melemah di Bagdad maka lahirlah kekhalifahan Fatimiyah, salah satu dinasti Islam beraliran Syi’ah Isma’iliyah pada tahun 909 M di Aprika Utara setelah mengalahkan Dinasti Aghlabiah, dalam sejarah dinasti Fatimiyah datang setelah pusat kekuasaannya dipindahkan dari Tunisia ke Mesir. Kekuasaan Syi’ah tersebut berakhir pada tahun 1771 M dan kekhalifahan ini lahir sebagai manifestasi dari idealisme orang-orang Syi’ah yang beranggapan bahwa yang berhak memangku jabatan Imamah adalah keturunan Fatimah binti Rasulullah. Dalam sejarah peradaban Islam bahwa Dinasti ini lahir diantara dua kekuatan politik khalifahan yaitu Abbasiyah di Bagdad dan Ummayah II di Cordofa .
Dinasti Fatimiyah merupakan aliran penguasa Syi’ah yang berkuasa diberbagai wilayah di Maghreb, Mesir, dan Syam dari 5 Januari 910 hingga 1171. Negeri ini dikuasai oleh Ismailiyah, salah satu cabang Syi'ah. Pemimpinnya juga para Imam Syiah, jadi mereka memiliki kepentingan keagamaan terhadap Isma'iliyyun. Kadang dinasti ini disebut pula dengan Bani Ubaidillah al Mahdi mengaku sebagai keturunan Ali ra. melalui garis Isma’il, putra Ja’far al Syadiq .Adapun nama ini sesuai dengan pendiri dinasti Fatimiyah berasal dari suatu tempat yang kini dikenal sebagai Tunisia ("Ifriqiya") namun setelah penaklukan Mesir sekitar 971, ibukotanya dipindahkan ke Kairo.
Di masa Dinasti Fatimiyah, Mesir menjadi pusat kekuasaan yang mencakup Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz. Kemudian di masa Dinasti Fatimiyah juga, Mesir berkembang menjadi pusat perdagangan luas di Laut Tengah dan Samudera Hindia, yang menentukan jalannya ekonomi Mesir selama abad pertengahan akhir yang saat itu dialami Eropa.
Dinasti Fatimiyah didirikan pada 909 oleh Abaidillah al Mahdi .Dengan demikian berdirilah pemerintahan Fatimiyah pertama di Afrika dan Al Mahdi menjadi khalifah pertama dari Dinasti Fatimiyah yang bertempat di Raqkodah dairah Al-Qiyrawan.Kemudian pada masa pemerintahan Al-Mahdi menghimpun berbagai persiapan, perlengkapan serta kekayaan untuk memperkuat dairah kekuasaannya dari perbatasan Mesir hingga sampai kepada peropinsi Fez di Maroko.
Selanjutnya pada tahun 920 M Ia mendirikan kota baru di pantai Tunisia yang kemudian diberi nama Al Mahdi dan pada tahun 934 ia wafat dan tampuk pemeritahan di gantikan oleh anaknya Abu Al-Qasim dengan sebuatan Al-Qoim (934 M/323 H-949 M/335 H) .Kemudian pada masa pemerintahan Al-Qoim berhasil memperluas daerah kekuasaanya yang meliputi Genoa dan sepanjang Calabria, dan pada waktu yang sama mengirim pasukan ke Mesir namun usahanya tidak berhasil karena dicegal oleh Abu Yazid Makad, seorang khawarij di Mesir dan ada ahirnya Al-Qoim meninggal dan digantikan oleh anaknya Al-Mansur dan berhasil menghacurkan Abu Yazid Makkad.
Al-Mansur digantikan oleh Abu Tamim Ma’ad yang dikenal dengan Al-Muiz, awal kekuasaanya berhasil merebut Maroko, Syicilia dan Mesir, dengan memasuki kota lama menyingkirkan dinasti Ikhshidiyah dan mendirikan ibukota baru di al Qahiroh, Sang Penunduk (Kairo modern) .Setelah Al-Muiz meniniggal digantikan oleh anaknya Al-Aziz terkenal dengan seorang yang pemberani dan bijaksana dan dibawah pemerintahannya, Dinasti Fatimiyah mencapai puncak kejayaanya karena seluruh Syiria, Mesopotamia dapat di taklukkan .Dan pada masa kekuasaanya, Dinasti Fatimiyah merupakan saingan berat bagi Bagdad yang kekuasaannya mulai lemah di bawah penguasaan Bani Buwaihi, akan tetapi penguasa Fatimiyah dan penguasa Bagdad Buwaihi menjalin persahabatan dengan saling tukar menukar duta .
Kemudian dalam pemerintahannya Al-Aziz sangat liberal dan memberikan kebebasan bagi setiap agama yang berkembang, bahkan Ia mengangkat seorang wazirnya seorang Kristen bernama Ibnu Nastur di samping itu pula Manasah seorang Yahudi di beri jabatan yang tinggi di Istana, meskipun demikian masa pemerintahan Al-Aziz kerukunan ummat beragama sangat Nampak dan terjalin dengan baik dalam jangka waktu yang lama.
2. Kemajuan dan kontribusi Dinasti Fatimiyah terhadap peradaban Islam
Sumbangsih Dinasti Fatimiyah terhadap peradaban Islam sangat besar baik dalam sistim pemerintahan maupun dalam bidang ilmu pengetahuan mencapai kemajuan zaman al-Aziz yang bijaksana . Kemajuan tersebut terlihat dari berbagai bidang dintaranya:
a. Kemajuan pemerintahan Dinasti Fatimiyah
Bentuk pemerintahan pada masa Dinasti Fatimiyah merupakan bentuk pemerintahan sebagai pola baru dalam sejarah Mesir, dalam pelaksanaannya khalifah adalah Kepala yang bersifat temporal dan spiritual dimana pengangkatan sekaligus pemecatan pejabat tinggi dibawah kontrol Khalifah .
Pengelolaaan negara yang di lakukan Dinasti Fatimiyah dengan mengangkat para Menteri dan Diasti Fatimiyah membagi kementerian menjadi dua kelompok: Pertama, kelompok Militer yang terdiri atas tiga jabatan pokok:(1)Pejabat tinggi militer dan pengawal khalifah, (2)Petugas keamanan, dan (3)Resimen-resimen, dan Kedua kelompok sipil yang terdiri atas (1)Qadhi (hakim dan direktur percetakan uang), (2)Ketua dakwah yang memimpin Dar al-Hikam (pengkajian), (3)Inspektur pasar(pengawasan pasar, jalan, timbangan, dan takaran), (4) Bendaharawan negara (menangani Baiy al-Mal), (5)Kepala urusan rumah tangga raja, (6)Petugas pembaca Alqur’an, dan (7)Sekertaris berbagai departemen. Selain pejabat pusat, disetiap dairah terdapat pejabat setingkat gubernur yang diangkat oleh khalifah untuk mengelola dairahnya.Admistrasi pemerintahan dikelola oleh dairah setempat .
Tidak jauh berbeda dengan peradaban yang terjadi pada zaman sekarang bahwa peradaban Islam pada masa lalu memberikan sumbangsih pemikiran tentang pemerintahan dimana, seorang Kepala negara dipimpin oleh peresiden dan para pembantu peresiden adalah seorang menteri dan berikut para kepala dairah yang di sebut dengan gubernur dan masing-masing dairah berhak mengelola dairahnya masing sesuai dengan amanat Undang-undang otonomi dairah.
Dalam sistim politik pmerintahan, dinasti Fatimiyah memiliki dua opsi, yaitu politik dalam negeri dan luar negeri. Politik dalam negeri dinasti ini hanya memiliki satu tujuan yakni berusaha mengajak masyarakat untuk memeluk mazhab Syi’ah Ismailiyah dan menjadikan mazhab ini sebagai mazhab yang utama di negara Mesir dan wilayah negeri yang berada di bawahnya. Dalam hal ini khalifah al-Aziz sangat menunjukkan sikap baik terhadap orang yahudi dan Nasrani sebagaimana ayahnya, Ia menikahi perempuan Nasrani dan untuk itu Ia bertoleransi dalam pendirian gereja diwilayahnya .
Kemudian dalam politik luar negeri dinasti ini memberikan nuansa kehawatiran terhadap dinasti Abbasyiah karena penguasaan atas wilayah ini akan menaikkan derajat Fatimiyah di wilayah Mesir, Syam, Palestina, dan Hijaz.Penguasa atas wilayah ini akan sangat memudahkan dalam menguasai wilayah Bagdad pada masa itu, karena itu Khalifah Abbasyiah memancing Dinasti Buwaihi untuk memerangi Dinasti Fatimiyah yang pada ahirnya terjadi peperangan antara Buwaihi dan Fatimiyah .
Demikian juga dengan kemajuan pemerintahan Fatimiyah dalam bidang administrasi negara lebih berdasarkan pada kecakapan daripada keturunan. Anggota cabang lain dalam Islām, seperti Sunni, sepertinya diangkat kedudukannya dalam pemerintahan sebagaimana Syi'ah. Toleransi beragama dikembangkan kepada non-Muslim seperti orang-orang Kristen dan Yahudi, yang mendapatkan kedudukan tinggi dalam pemerintahan dengan berdasarkan pada kemampuan.
Demikian pula pada masa pemerintahan Muiz dan tiga orang pengganti pertamanya, seni dan ilmu pengetahuan mengalami kemajuan besar.Al-Muizz melaksanakan tiga kebijaksanaan besar yaitu pembaharuan dalam bidang administrasi, pembangunan ekonomi, toleransi beragama, dalam bidang admistrasi Ia mengangkat seorang wazir (menteri) untuk melaksanakan tugas-tugas kenegaraan, kemudian dalam bidang ekonomi ia memberi gaji khusus kepada tentara, personalia istana, dan pejabat pemerintahan lainnya begitu juga dengan bidang agama, di Mesir diadakan empat lembaga peradilan dua untuk mazhab Syi’ah dan dua untuk mazhab sunni
b. Penyebaran Faham Syi’ah
Kemajuan Dinasti Fatimiyah bukan hanya terlihat dari segi pemerintahan akan tetapi dalam bidang agama yaitu penyebaran faham Syi’ah, dengan demikian seganap pengetahuan negeri tersebut tentang Islam berdasarkan pemikiran Syi’ah yang pokok ajaran terpentingnya adalah Ali diwasiatkan menjadi khalifah dan jabatan khalifah itu dikhususkan kepada anak-anaknya dari isterinya Fatimah .
Demikian juga ketika Mu’iz berhasil menguasai Mesir, di tempat ini berkembang empat mazhab fikih: Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hanbali, sedangkan Muiz mengfanut faham Syi’ah dengan demikian Al-Mu’iz menganyomi dua kenyataan dengan mengangkat hakim dari kalangan sunni dan hakim dari kalangan Syi’ah akan tetapi jabatan penting diserahkan kepada ulama syi’ah dan sunni hanya menduduki jabatan rendahan.Pada tahun 379 M, semua jabatan diberbagai bidang baik politik, agama dan militer dipegang oleh syi’ah, oleh karena itu sebagian pejabat Fatimiyah yang sunni beralih ke Syi’ah supaya jabatannya meningkat dan disisi lain Mu’iz membangun toleransi beragama sehingga pemeluk agama lain, seperti keristen diperlakukan dengan baik dan diantara mereka diangkat menjadi pejabat istana .
c. Perkembangan ilmu pengetahuan
Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Fatimiyah mencapai kondisi yang sangat mengagumkan, hal ini di sebabkan dengan berkembangnya penterjemahan dan penerbitan sumber-sumber pengetahuan dari bahasa asing, seperti bahasa Yunani, Persia dan India kedalam bahasa Arab yang banyak mendorong para wazir, Sultan dan Umara untuk melahirkan tokoh-tokoh ilmu pengetahuan dan sastra.
Di antara tempat berkembangnya ilmu pengetahuan pada masa dinasti Fatimiyah adalah dengan berdirinya masjid dan istana yang kemudian dijadikan sebagai tempat basis ilmu pengetahuan, di ceritakan salah seorang wazir Dinasti ini Ya’qub ibn Yusuf Ibn Killis sangat mencintai ilmu pengetahuan dan seni .
Pada masa dinasti ini masjid menjadi tempat berkumpulya ulama fiqih khususnya ulama yang menganut mazhab syi’ah Ismailiyah juga para wazir dan hakim, mereka berkumpul membuat buku tentang mazhab Syi’ah yang akan diajarkan kepada masyarakat, di antara tokoh yang membuat buku itu ialah Ya’kub ibn Killis, dan fungsi dari perkumpulan tersebut untuk memutuskan perkara yang timbul dalam peroses pembelajaran mazhab syi’ah . Nampak jelas lembaga-lembaga ini menjadi tempat penyebaran ideologi mereka.
Kemudian pada masa Dinasti ini perpustakaan juga mempunyai peran yang tidak kecil dibandingkan dengan masjid untuk itu para khalifah dan wazir memperbanyak pengadaan berbagai buku ilmu pengetahuan sehingga perpustakaan istana menjadi perpustakaan yang terbesar pada masa itu. Dan perpustakaan ini di kenal demngan nama Dar al-Ulum di gabungkan dengan Dar al-Hikmah yang berisi berbagai ilmu pengetahuan sehingga melahirkan sejumlah ulama, pada masa ini muncul sejumlah ulama diantaranya; Muhammad al-Tamimi (ahli Fisika dan kedoktran), Al-Kindi (sejarah dan filsafat), Al-Nu’man (ahli hokum dan menjabat sebagai hakim), Al Ibn Yunus (ahli astronomi), Ali al-Hasan Ibn al-Khaitami (ahli fisika dan optik) .
d. Kemajuan dalam bidang sosial dan ekonomi
Di bawah pemerintahan Dinasti Fatimiyah, Mesir mengalami kemakmuran ekonomi dan vitalitas kultural yang mengungguli Irak dan daerah-daerah lainnya, hubungan dagang dengan daerah non Muslim dibina dengan baik termasuk dengan India dan negeri-negeri Mediterania yang beragama Kristen di samping itu pula Mesir ini merupakan tempat penghasil peroduk industri dan seni.
Kemudian dalam bidang sosial masa dinasti Fatimiyah perhatiannya terhadap kesejahteraan masyarakat sangat tinggi terbukti dengan dibangunnya perguruan tinggi, rumah-rumah sakit, pemondokan kahlifah menghiasi kota baru di Kairo di samping itu pula tempat pemandian umum dan pasar-pasar di bangun dan dipenuhi oleh berbagai penduduk dari seluruh negeri, ini menunjukkan bahwa kemakmuran yang sungguh begitu melimpah dan kemajuan bidang ekonomi begitu luar biasa pada masa Dinasti Fatimiyah.
Para khalifah sangat dermawan dan memperhatikan warga non Muslim, di bawah pemerintahannya non muslim diperlakukan dengan baik, apalagi pada masa pemerintahan al-Aziz, Ia adalah salah seorang khalifah Fatimiyah yang sangat menghargai non-Muslim .
Kemudian orang Sunni pun menikmati kebebasan beragama yang dilaksanakan khalifah-khalifah sehingga banyak da’i-da’i Sunni yang belajar di Al-Azhar walupun dalam masa pemerintahannya bersungguh-sungguh mensyi’ahkan orang Mesir akan tetapi mereka tidak melakukan pemaksaan kapada orang Sunni untuk mengikuti aliran syi’ah itulah salah satu bentuk kebijakan pemerintahan yang dilakukan dinasti Fatimiyah yang pengaruhnya sangat besar terhadap kemakmuran dan kehidupan sosial yang aman tentram.
Sebenarnya pranata sosial yang berlaku pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir ini mengikuti pranata-pranata yang berlaku bagi tiga khalifah sebelumnya dan dilandaskan pada aturan-aturan agama. Kemudian pada zaman khalifah ini, Mesir mengalami kemakmuran, perdagangan juga berkembang kesegala arah .
3. Kemunduran dan kehancuran Dinasti Fatimiyah
Dinasti Fatimiyah di Mesir mengalami kemunduran ketika Bani Saljuk bersama pasukannya menyerang Bagdad dan mengusir keluarga Buwaihi bahkan akhirnya menangkap tokohnya yang bernama al-Bassasiri, dinasti ini tidak dapat memberikan pertolongan dan kemundurannya itu membawa mereka kepada gerbang kehancuran.
Apalagi setelah Al-Aziz meninggal, Abu Ali-Mansur yang baru berumur sebelas tahun diangkat untuk menggantikannya dengan gelar Al-Hakim, kekuasaanya ditandai dengan berbagai kekejaman, Ia telah membunuh beberapa wazir, merusak beberpa gereja Kristen temasuk gereja Holy Sepulchre (makam suci) di Palestina pada tahun 1009 M. Peristiwa ini menjadi sebuah pemicu berkobarnya perang Salib, selain itu Ia telah memaksa orang Kristen dan Yahudi memakai jubah hitam, mengendarai keledai dan menunjukkan tanda salib bagi orang Kristen serta menaiki lembu dengan memakai bel bagi orang Yahudi. Kesalahan yang paling patal adalah pernyataanya yang menyatakan diri sebagai inkarnasi Tuhan, yang kemudian di terima dengan baik oleh sekte Syi’ah baru yang bernama Druz sesuai dengan nama pemimpinnya Al-Daradzi yang berasal dari Turki .
Kebijakan politik Al-Hakim telah menimbulkan rasa benci kaum Dzimmi dan Muslim non Syi’ah, anaknya Abu Hasan Ali Adhahir naik tahta ketika berhasil kembali menarik simpati kaum Dzimmi namun kemudian jatuh sakit karena peceklik dan meninggal dunia pada tahun 1035 M. Kemudian penggantinya adalah Abu Thamim Ma’ad al-Muntansir (ketika berumur 7 tahun). Di saat bersamaan, Palestina memberontak, Saljuk berhasil menguasai Asia Barat, propinsi-propinsi Afrika menolak membayar pajak dan menyatakan lepas dari Fatimiyah atas dukungan Dinati Bani Abbas. Tripoli dan Tunisia dikuasai oleh suku Hilal dan Sulaim (1052 M), dan Sicilia di kuasai oleh bangsa Normandia (1071 M) .
Setelah Al-Hakim, Khalifah-kahlifah Fatimiyah tidak lebih dari boneka yang menjadi permainan para wazir dan jenderal, selama pemerintahan al-Muntansir yang cukup lama (427-487 H./1036-1097) terjadi perselisihan yang sangat tajam antara jendral dan wazir kemudian perselisihan ini membawa ibu kota Kairo, kearah anarkis dan kekacauan yang hebat ditambah lagi dengan wabah penyakit dan kelaparan. Pada waktu itu terjadi hama yang menyerang tanaman sehingga hasil panen mengalami kekagagalan, karena kelemahan khalifah tidak bisa mengatasi semua itu maka banyak dairah-dairah yang melepaskan diri dari kekuasaan Fatimiyah, sehingga Hijaz yang memberikan bantuan untuk menolong bencana kelaparan disana dan menjadi kebanggan khalifah menolak berada dalam pengawasan Kairo .
Karena tentara Salib terlalu tangguh, al-Zafir meminta bantuan kepada Nuruddin al-Zanki . Nurudin al-Zanki mengirim pasukan di bawah pimpinan Syirkuh dan Salahudin al-Ayubi, setelah berhasil mengalahkan pasukan salib kemudian pasukan Nurudin al-Zanki kembali ke Suriyah akan tetapi sepeninggalan pasukan tersebut terdapat komplik internel, yaitu Syawar mengundang tentara salib ke Mesir karena ingin memperoleh jabatan wazir. Akhirnya pasukan Nurudin al-Zanki yang di pimpin oleh Syirkuh datang kembali ke Mesir. Syawar di tangkap dan kepalanya dipenggal atas perintah dinasti Fatimiyah, Syirkuh akhirnya diangkat menjadi wazir oleh Fatimiyah (564 H), tiga bulan kemudian, Syirkuh wafat dan diganti oleh kemenakannya Salahudin al-Ayubi. Kemudian pada tanggal 10 Muharram 567 H/1171 M, khalifah al- Adid (Fatimiyah) wafat dan kekuasaan berpindah ke tangan Salahudin al-Ayubi .












C. KESIMPULAN
Berangkat dari pembahasan peristitiwa sejarah peradaban Islam pada masa dinsti Fatimiyah maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Ketika Dinasti Abbasiah mulai melemah di Bagdad maka lahirlah kekhalifahan Fatimiyah, salah satu dinasti Islam beraliran Syi’ah Isma’liyah pada tahun 909 M. di Aprika Utara setelah mengalahkan Dinasti Aghlabiah, dalam sejarah, dinasti Fatimiyah datang setelah pusat kekuasaannya dipindahkan dari Tunisia ke Mesir. Kekuasaan Syi’ah tersebut berakhir pada tahun 1771 M dan kekhalifahan ini lahir sebagai manifestasi dari idealisme orang-orang Syi’ah yang beranggapan bahwa yang berhak memangku jabatan Imamah adalah keturunan Fatimah binti Rasulullah. Dalam sejarah peradaban Islam bahwa Dinasti ini lahir di antara dua kekuatan politik khalifahan, yaitu Abbasiyah di Bagdad dan Ummayah II di Cordofa.
2. Selama pemerintahan Dinasti Ftimiyah berkuasa telah banyak memberikan kontribusi pemikiran terhadap peradaban Islam baik dalam sistim pemerintahan maupun dalam bidang ilmu pengetahuan, kemajuan ini mencapai puncaknya pada zaman al-Aziz yang bijaksana. Adapun kemajuan tersebut terlihat dari berbagai bidang dintaranya; Kemajuan dalam bidang pemerintahan, bentuk pemerintahan pada masa dinasti Fatimiyah merupakan bentuk pemerintahan sebagai pola baru dalam sejarah Mesir, dalam pelaksanaanya khalifah adalah kepala yang bersifat temporal dan spiritual dimana pengangkatan sekaligus pemecatan pejabat tinggi dibawah kontrol khalifah. Dalam pengelolaan negara dinasti ini mengangkat beberapa Menteri yang bertugas membantu khalifah, kemudian dalam sistim politik Dinasti Fatimiyah memiliki dua ofsi yaitu politik dalam negeri dan politik luar negeri. Peyebaran ajaran Syi’ah, kemajuan dinasti Fatimiyah bukan hanya terlihat dari segi pemerintahan akan tetapi dalam bidang agama yaitu penyebaran faham Syi’ah, dengan demikian segenap pengetahuan negeri tersebut tentang Islam berdasarkan pemikiran Syi’ah yang pokok ajaran terpentingnya adalah Ali diwasiatkan menjadi khalifah dan jabatan khalifah itu dikhususkan kepada anak-anaknya dari isterinya Fatimah. Perkembangan ilmu pengetahuan’ pada masa Dinasti Fatimiyah mencapai kondisi yang sangat mengagumkan, hal ini di sebabkan dengan berkembangnya penterjemahan dan penerbitan sumber-sumber pengetahuan dari bahasa asing seperti bahasa Yunani, Persia dan India kedalam bahasa Arab yang banyak mendorong para wazir, sultan dn umara untuk melahirkan tokoh-tokoh ilmu pengetahuan dan sastra. Dalam bidang sosial ekonomi, dibawah pemerintahan dinasti Fatimiyah, Mesir mengalami kemakmuran ekonomi dan vitalitas kultural yang mengungguli irak dan dairah-dairah lainnya, hubungan dagang dengan dairah non Muslim dibina dengan baik, kesejahteraan masyarakat sangat tinggi terbukti dengan dibangunnya perguruan tinggi, rumah-rumah sakit, pemondokan kahlifah menghiasi kota baru di Kairo begitu pula tempat pemandian umum dan pasar-pasar di bangun dan dipenuhi oleh berbagai peruduk dari seluruh negeri, ini menunjukkan bahwa kemakmuran yang begitu melimpah dan kemajuan yang begitu luar biasa pada masa dinati Fatimiyah.
3. Dinasti Fatimiyah mencapai kemunduran Setelah Al-Hakim, Khalifah-kahlifah Fatimiyah tidak lebih dari boneka yang menjadi permainan para wazir dan Jenderal, selama pemerintahan al-Muntansir yng cukup lama (427-487 H./1036-1097) terjadi perselisihan yang sangat tajam antara jendral dan wazir kemudian perselisihan ini membawa ibu kota Kairo, kearah anarkis dan kekacauan yang hebat ditambah lagi dengan wabah penyakit dan kemarau panjang, sehingga Dinsti Fatimiyah terpecah menjadi dua Nizari dan Musta’li. Kemudian pada masa al-Musta’li pasukan Salib melakukan serangan sehingga menguasai Antokia hingga Bait al-Maqdis, karena tentara Salib terlalu tangguh, al-Zafir meminta bantuan kepada Nuruddin al-Zanki .Nurudin al-Zanki mengirim pasukan dibawah pimpinan Syirkuh dan Salahudin al-Ayubi, setelah berhasil mengalahkan pasukan salib kemudian pasukan Nurudin al-Zanki kembali ke Suriyah akan tetapi sepeniggal pasukan tersebut terdapat konplik internal, yaitu Syawar mengundang tentara salib ke Mesir karena ingin memperleh jabatan wazir.Akhirnya pasukan Nurudin al-Zanki yang di pimpin oleh Syirkuh datang kembali ke Mesir. Syawar di tangkap dan kepalanya di penggal atas perintah dinasti Fatimiyah, Syirkuh akhirnya diangkat menjadi wazir oleh Fatimiyah (564 H), tiga bulan kemudian, Syirkuh wafat dan diganti oleh kemenakannya Salahudin al-Ayubi. Kemudian pada tanggal 10 Muharram 567 H/1171 M, khalifah al- Adid (Fatimiyah) wafat dan kekuasaan berpindah ketangan Salahudin al-Ayubi


DAFTAR PUSTAKA

Fauzan Suwito, 2005, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, Cetakan Pertama, Jakarta: Prenada Media
Karim Abdul.M.,2007, Sejarah Pemikiran dan Pradadaban Islam, Cetakan Pertama, Yogyakarta: Pustaka Book Publusher

Lapidus Ira, M., 1999, Sejarah Sosial Ummat Islam Bagian I dan II, Jakarta: Grafindo Persada

Mubarok Jaih, 2004Sejarah Peradaban Islam, Cetakan Pertama, Bandung: Pustaka Bani Quraiys

______, Sejarah Peradaban Islam, 2005, Cetakan Pertama, Bandung: Pustaka Bani Quraisy

______, Sejarah Peradaban Islam, 2008, Cetakan Pertama edisi revisi, Bandung: Pustaka Islamika

Salabi Ahmad, 2009, Sejarah Kebudayaan Islam 3, Jakarta: Pustaka Al Husna Baru

Sunanto Musyrifah, 2004, Sejarah Islam Kelasik, Jakarta: Kencana

Thohir Ajid, 2004, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Jakarta: Grafindo persada

Yatim Badri, 2008, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, Jakarta: Raja Grafindo Persada

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar