Minggu, 24 Januari 2010

DINASTI SALJUK

A. Pendahuluan
Berakhirnya Dinasti Buwaihi menandai dibukanya babak baru dalam sejarah umat Islam, yaitu berdirinya Dinasti saljuk. Dinasti Saljuk berasal dari bangsa Turki, bagian Turkistan. Sumber lain menyebutkan bangsa Turki berasal dari sebuah rumpun bangsa yang terkenal dengan rumpun bangsa Ural Al-Taik, yang disebut sebagai bangsa yang berkulit kuning. Rumpun bangsa Altaik yang diduga sebagai asal bangsa Turki ini masih memiliki pola hidup yang berpindah-pindah, budaya mereka masih primitive, dan system kekuasaan mereka berdasarkan adat.Penopang kehidupan mereka adalah pengembalaan ternak dan melakukan penjarahan kepada suku-suku yang lebih lemah. Model kehidupan yan terakhir telah memupuk kegemaran untuk memiliki anak laki-laki. Sejak kecil anak-anak itu telah dilatih permainan untuk mengembangkan keberanian mereka dan pembentukan tubuh yang kuat. Mereka mengorganisasikan diri di bawah seseorang yang disebut Khan. Di negei-negeri muslim, kaum Saljuk terkenal dengan nama Turkuman.
Di antara Dinasti bangsa Turki yang terkenal sebelum periode Mongol adalah Turki Saljuk. Seperti halnya bangsa Turki yang lain, Turki Saljuk berasal dari suku bangsa yan terbiasa hidup bebas.Berawal dari Asia tengah, mereka mengiring ternak menyebrang wilayah Persia menuju Anatolia dan Irak bagian utara serta siria.Bangsa Saljuk sebagaimana bangsa-bangsa Turki sesudahnya merupakan komonitas sunni yang militan, karena itu mereka kemudian menjadi pembela khalifah Islam Sunni dari kekuatan yang hendak menghancurkannya.Mereka mengenalkan Lembaga sultan (wazir) sebagai lembaga sekuler, sedangkan lembaga khalifah merupakan lembaga agama dan politik yang secara teoritis tidak boleh dipecah.
B. Dinasti Saljuk
1. Asal-usul Saljuk
Abad kedua dan ketiga Hijriyah telah menyaksikan kelompok-kelompok dari suku-suku kaum keturunan Turki mengungsi dari pedalaman Turkistan karena tekanan politik atau ekonomi atau kedua-duanya sekali, menuju kearah barat, dan mencoba menetap di kawasan seberangan sungai dan kawasan khurasan. Pada mulanya suku-suku kaum ini tidak mempunyai satu kepemimpinan, dan tidak juga dikenali berasal dari suatu nasab keturunan. Ketika Saljuk muncul pada pertengahan kedua abad ke empat, suku-suku kaum ini telah bersatu di bawah pimpinannya dan digelarkan dengan namanya serta terus tunduk di bawah pemerintahan anak cucunya.
Dinasti Saljuk dinisbatkan kepada Saljuk Ibn Tuqaq. Tuqaq (ayah Saljuk) adalah pemimpin suku Oghus (Ghuss atau Oxus) yang menguasai Turkestan, tempat mereka tinggal. Saljuq Ibn Tuqaq pernah menjadi panglima imperium Ulghur yang ditempatkan di selatan lembah Tahrim dengan Kasghar sebagai ibu kotanya. Karena merasa tersaingi kewibawaan, permaisuri raja Ulghur merencanakan pembunuhan terhadap Saljuk. Akan tetapi, sebelum dapat direalisasikan, rencana itu sudah diketahui oleh Saljuk. Dalam rangka menghindari pembunuhan, Saljuk dan orang-orang yang setia kepadanya menyelamatkan diri dengan melarikan diri ke arah Barat, yaitu daerah Jundi (Jand), suatu daerah yang merupakan bagian dari Asia kecil yang dikuasai dinasti Samaniyah yang dipimpin oleh Amir Abd al-Malik Ibn Nuh (954-961 M). Amir Abd Malik Ibn Nuh mengizinkan Saljuk tinggal di Jundi, dekat Bukhara. Terkesan oleh kebaikan Amir Abd al-Malik Ibn Nuh, Saljuk dan pengikutnya memeluk Islam aliran sunni sesuai dengan aliran yang dianut oleh masyarakat setempat.
Saljuk Ibn Tuqaq membalas jasa kebaikanAmir Abd al-Malik Ibn Nuh dengan membantunya mempertahankan dinasti Samani dalam menghadapi serangan-serangan dinasti Ulghur. Dalam salah satu perang tersebut, Saljuk mati terbunuh: dan ia meninggalkan tiga anak: Arselan, Mika’il, dan Musa.
Saljuk telah meniggal dunia ketika berusia lebih kurang seratus tahun. Anaknya bernama Arselan telah menggantikan sebagai pemimpin baru bagi suku-suku kaum itu. Pemimpin kaum Ghasnah, sultan Mahmud mulai merasa curiga terhadap kekuatan yang baru muncul ini, namun ia berpura-pura bersikap cinta akan damai dan mengundang Arselan untuk berunding. Tetapi Arselan yang menyambut undanganya itu telah ditangkap dan dipenjarakan. Kaum Saljuk melantik pula saudara Arselan yang bernama Mikael untuk memimpin mereka. Mikael juga tertarik dengan sikap damai Sultan Mahmud, pemimpin kaum khasnah itu, lebih-lebih lagi merasa kaum kekuatan kaum saljuk tidak dapat menentang kekuatan kaum khasnah. Tetapi sikap berdamai ini tidak berkepanjangan, karena Sultan Mahmud telah menyerang kaum Saljuk dan memporak porandakan mereka pada tahun 418 H, dan Mikael telah meninggal dunia setelah itu.
2. Pendirian Dinasti Saljuk
Sepeninggal Saljuk, Pimpinan suku dipegang oleh Mikael. Akan tetapi ia pun gugur ketika perang melawan dinasti Gaznawi yang hendak merebut Khurasan dari Samaniah. Setelah wafat, hal ihwal kaum Saljuk telah terserah kepada kedua-dua orang anak laki-laki Mikael, yaitu Jughri Bey dan tughrul Bey. Kemudian sultan Mahmud pula meninggal dunia, dan kematiannyatelah merintis jalan ke arah kejayaan kaum Saljuk, karena anaknya yang bernama Mas’ud gagal memenuhi kekosongan besar yang ditinggalkan olehnya, dan telah tewas di tangan kaum saljuk di medan pertempuran Sarakhs pada tahun 429 H, serta mundur ke India dengan meninggalkan Khurasan dan kawasan seberang sungai untuk dikuasai oleh kekuatan yang baru itu. Pada tahun itu juga Tughrul bey mengumumkan pendirian kerajaan Saljuk. Setelah kedudukan kerajaan Saljuk itu mantap, barulah diiktiraf oleh khalifah oleh khalifah Abbasiyah pada tahun 432 H.
Setelah itu kekuasaan kaum Saljuk terus meluas, khususnya dizaman Malik Syah yang menaklukkan wilayah Bukhara pada tahun 482 H, kemudian Samarkand, setelah mengenakan pengepungan di mana penduduk tempat sendiri turut memberikan kerja sama ke arah kejayaannya dengan menyumbangkan bekalan makanan dan senjata kepada tentara Saljuk, sebagai tanda mangelu-elukan kedatangannya untuk menyelamatkan mereka dari kekejaman dan keganasan kaum khaznah yang memerintah mereka pada masa tersebut.
Di negeri-negeri Islam, kaum Saljuk juga terkenal dengan gelaran Turkuman. Sesudah itu terjadi pula sengketa sesama kaum khaznah. Kaum Saljuk telah mengambil kesempatan dari keadaan ini, lantas menduduki Khuwarizm dan tabarestan, serta melancarkan beberapa serangan lagi dan dan berhasil menaklukkan Azarbaijan. Akhirnya mereka bergerak dengan penuh keazaman untuk menumpas sisa-sisa kaum khaznah di Parsi. Dengan ini mereka sudah berada di pintu masuk negeri Irak.
3. Saljuk Menguasai Baghdad
Sementara bintang kaum saljuk mulai terang, bintang bani Buwaih mulai redup dan pudar. Keadaan-keadaan yang timbul semakin mempercepat lagi kaum saljuk tiba ke Baghdad. Sultan bani Bawaih, yaitu raja Rahim adalah seorang yan kurang berpengaruh. Orang yang benar-benar berpengaruh di Baghdad pada waktu itu ialah seorang panglimanya dari keturunan Turki bernama Nasairi. Panglima Turki ini telah memberontak menentang rajanya dan Khalifah Abbasiyah, serta mencoba berkuasa penuh dan berikrar taat setia kepada khalifah Fatimiyah al-Muntansir. Khalifah Abbasiyah al-Qa’im telah meminta pertolongan dari Tugrel Bek pemimpin kaum saljuk, dan Tugrel Bek telah mengambil kesempatan yang baik ini untuk memimpin bala tentaranya masuk ke Baghdad pada tahun 447 H. Khalifah telah mengelu-elukan ketibaanyadan memberi gelar Yamin Amiril Mu’minin serta meletekkan Raja Rahim di bawah kekuasaanya. Namanya disebut di dalam Khutbah-khutbah sesudah sebutan nama Khalifah, dan nama Raja Rahim disebutkan setelah itu sekali-kali. Tetapi Tugril Bek dengan segera menangkap Raja Rahim dan mengirimnya dengan Raiyi, sebagai tawanan untuk dimasukkan ke dalam penjara. Kekuasaan Dinasti Buwaihi berakhir dan selanjutnya Khalifah Dinasti Bani Abbas bekerjasama dengan Saljuk mulai tahun 1055 M. Sebagai kehormatan, Khalifah al-Qa’im memberikan gelar ”Raja Timur dan Barat”kepada Tugril Bek dan ia menikah dengan putri al-Qa’im. Pada tahun 455 H/1063 M, Tugrel Bek wafat dan digantikan oleh kemenakanya, Alp Arselan; karena Tugrel Bek tidak punya anak.
4. Hubungan antara Khalifah-Khalifah Abbasiyah dan Sultan Saljuk
Hubungan antara khalifah-khalifah abbasiyah dan sultan-sultan Saljuk adalah berbeda dari hubungan yang terjalin di antara khalifah-khalifah tersebut dengan sultan-sultan Bani Bawaih. Ahli-ahli sejarah menyebutkan bahwa sebab yang paling penting sekali ialah persepakatan dalam pegangan mazhab. Kedua belah pihak, yaitu khlifah-khalifah Abbasiyah dan sultan-sultan Saljuk itu, sama-sama berpeegang kepada mazhab ahlis sunnah. Ini telah memudahkan kerjasama di antara kedua belah pihak dan telah mendorong kaum saljuk itu menyanjung dan menghormati dengan setinggi-tingginya khalifah-khalifah Abbasiyah. Di samping sebab yang disebutkan itu, bahwa Bani Bawaih adalah kaum yang bersifat kasar dan ganas, sementara kaum Saljuk tidak bersifat demikian. Dibalik perbedaan pegangan mazhab, bisa juga diwujudkan saling hormat menghormati dan saling kerja sama untuk kebaikan bersama dan keuntungan-keuntungan umum.
5. Cabang-cabang Kaum Saljuk
Sejak didirikan, saljuk telah membagi kerajaan mereka menjadi beberapa wilayah kecil dengan masing-masin mempunyai seorang pemerintah dari keluarga Bani Saljuk juga. Setiap pemerintah itu baergelar Syah, yaitu raja, dan semuanya tunduk kepada pemimpin kerajaan yang diberi gelaran Sultan atau raja teragung.
Kaum Saljuk telah mengamalkan sistem ini sejak zaman Tugrel Bek. Setiap pemerintah wilayah mempunyai kekuasaan otonomi berhubung dengan hal ihwal dalam wilayahnya, begitu juga berhak menaklukkan kawasan-kawasan berdekatan. Kekuasaan sultan-sultan adalah meliputi berbagai wilayah di masa kekuatannya, tetapi apabila kekuatannya merosot dan kerajaan berpecah belah, sultan-sultan mulai kehilangan kekuasaan tersebut dan pemerintah-pemerintah wilayah berkuasa penuh ke atas hal ihwal wilayah masing-masing.
Sistem pemerintahan seperti demikian telah menanamkan bibit-bibit perpecahan yang dialami kemudiannya oleh kerajaan Saljuk, dan dari perpecahan ini lahir lima golongan Saljuk, yaitu kaum saljuk ’Izam, kaum Saljuk Syiria, dan kaum Saljuk Roma. Ternyata bahwa sebagian dari golongan ini berasal dari kaum Saljuk ’Izam, seperti kaum Saljuk Iraq, dan sebagiannya pula berada di kawasan yang baru dimasuki seperti kaum Saljuk Roma.
Di antara sultan-sultan Saljuk terkemuka ialah Tugrel Bek, pendiri kerajaan Saljuk (meningal dunia pada tahun 455 H.), anak saudaranya Alb Arislan (meninggal pada tahun 465 H) dan Malik Syah bin Alb Arislan (meninggal pada 485 H). Semua mereka ini adalah dari kaum Saljuk ’Izam. Walaupun terjadi beberapa gerakan pemberontakan di zaman mereka, namun kedudukan mereka adalah lebih kukuh darpada gerakan-gerakan tersebut dan mereka lebih berhasil menumpasnya serta terus mengekalkan kekuasaan mereka ke atas semua wilayah-wilayah Saljuq.
6. Kemajuan Saljuk
Dinasti Saljuk tercatat sebagai dinasti yang sukses dalam membangun masyarakat pada waktu itu. Di antara kegiatan yang dilakukannya adalah: (1) memperluas Masjid al-Haram dan masjid an-Nabawi; (2) Pembangunan rummah sakit di Naisafu; (3) pembangunan gedung peneropong bintang; dan (4) pembangunan sarana pendidikan.
Pada zaman Alp Arselan dan Malik Syah terdapat seorang wazir (mentri) yang sangat terkenal, yaitu Nizham al-Muluk. Beliau adalah pemrakarsa berdirinya perguruan Nizhamiyah yang brpusat di Baghdad dan cabang-cabangnya di Balkh, Naisafur, Hirah, Isfahan, Bashrah, Merv, dan Mosul. Di perguruan ini muncul sejumlah ulama besar, di antaranya:
 Imam al-Haramyn al-Juwaini.
 Imam Al-Ghazali.
 Imam Fakhr al-Razi (ahli ilmu tafsir).
 Zamakhsyari (ahli ilmu tafsir).
 Imam al-Qusyairi (ahli ilmu tasawwuf).
Dalam bidang ilmu eksaskta, muncul sejumlah ulama. Di antara mereka adalah:
 Umar Ibn Khayyam (ahli astronomi dan ilmu pasti).
 Ali Yahya al-Haslah (ahli ilmu kedokteraan); beliau menulis kitab al-Manhaj fi al-Tib.
 Abu Hasan al-Mukhtar (ahli ilmu kedokteran); beliau menulis kitab Dakwat at-Tib.
 Muhammad ali al-Samarqandi (ahli ilmu kedokteran); beliau menulis kitab Aghziarat al-Mardha.
Salah satu pengikut al-Asy’ari adalah Muhammad Ibnu al-Thayyib Ibnu Muhammad Abu Bakar al-Baqilani (w. 1013 M). Ia belajar kepada dua murid imam al-Asy’ari: Ibn Mujahid dan Abu al-Hasan al-Bahili. Pengikut lainnya adalah abd al-Malik al-Juwaini. (419-478 H.). Abd Malik al-Juwaini guru besar di madrasah Nizhamiyah dan menhasilkan sebuah karya dalam bidang ilmu agama.
Salah satu murid Imam al-Juwaini di Madrasah Nizhamiyah adalah Abu Hamid al-Ghazali (1058-1111 M../450-505 H.).Imam al-Ghazali memiliki sejumlah karya dalam berbagai bidang: akidah (ushul al-ddin), ushul fiqh, fiqh, manthiq filsafat, dan tasawwuf.
7. Pemicu Perang Salib
Setelah berhasil menguasai Baghdad, dinasti Saljuk melakuan ekspansi hingga menguasai Asia Kecil (Turki sekarang) dan menguasai wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai Bizantium. Peran terjadi antara pasukan Saljuk dengan pasukan Bizantium. Apabila ada orang Bizantium dan Eropa yang hendak beribadah ke Bait al-Maqdis di Yarussalim; hartanya dirampas oleh Saljuk. Oleh karena itu, orang Bizantium dan Eropa merasa tidak aman untuk malakukan ibadah ke Bai al-Maqdis di Yarussalim. Peristiwa ini mendorong raja Bizantium untuk bekerjasama dengan Eropa untuk menghancurkan Islam. Oleh karena itu, Paulus II mendeklarasikan perang suci yang kemudian dikenal dengan perang salib.
8. Kemunduran dan Akhir Dinasti Saljuk
Berbagai-bagai faktor turut melemahkan kaum Saljuk. Sebagai faktor datangnya dari luar dan yang lainya faktor dari dalam negeri. Faktor-faktor luar negeri berupa peperangan-peperangan salib. Di antara faktor-faktor dalam negeri ialah pemberontakan golongan Isma’iliah dari kelompok Hasysyasyin, perpecahan-perpecahan dalam negeri hasil dari pada peluasan kerajaan Saljuk dan hasil dari pada cara hidup kaum Saljuk yang bersuku-suku, dan penghianatan sebagai pegawai pemerintah yan pernah menjadi hamba abdi kaum saljuk, seperti raja-raja Khuwarizm dan Ghur. Tetapi faktor keruntuhan dalam negeri yang terpenting sekali ialah berdirinya wilayah-wilayah Amiriyah Utabak.
Sumber wilayah-wilayah Amiriyah ini ialah kawasan-kawasan yang diberikan oleh wazir Nizhamul Mulk kepada pemimpin-pemimpin tentara dan tokoh-tokoh kerajaan yang terkemuka sebagai ganti upah mereka. Biasanya pajak-pajak dikutip dari seluruh negeri untuk membiayai laskar-laskar dan tiada seorang pun diberi hak memiliki tanah. Apabila Nizhamul Mulk mendapati hasil kutipan pajak sukar diperoleh dari seluruh negeri, maka laskar-laskar itu diberikan tanah-tanah sebagai upahan.
Pada mulanya kawasan-kawasan itu tidak sedikit pun membahayakan integritas kerajaan. Tetapi kerajaan-kerajaan mulai lemah, setiap pemilik tanah itu merasa dirinya sebagai amir dan pemerintah di kawasan tanah masing-masingserta memisahkan diri dari pengaruh kaum saljuk. Dengan ini maka lahirlah Utabak Damsyik, Utabak Mausil, Utabak Jazirah dan sebagainya. Sebagai Utabak menggunakan beberapa orang untuk memperluas pengaruh dan kekuasaan atas nama amir Saljuk.
B. Peristiwa-Peristiwa Terpenting di Zaman Saljuk
1. Perkawinan antara Kalangan Kaum Saljuk dengan Kalangan Bani Abbasyiah
Perkawinan di antara putra putri Bani Abbas dengan putra-putri Sultan Saljuk adalah suatu perkara biasa, karena memang banyak putra-putri Bani Abbas yang mempunyai istri-istri dari berbagai keturunan dan warna kulit. Tetapi apa yang terjadi di zaman kaum Saljuk itu adalah suatu perkara yang luar biasa, yaitu perkawinan di antara Sultan-sultan Saljuk dengan putri-putri Khalifah Abbasiyah.
Ketika menceritakan tentang perkawinan khalifah Al-Qa’im dengan anak saudara Tugrel Bek, Al-Asfahani mengatakan bahwa pada bulan Muharram tahun 448 H, Khalifah Al-Qa’im telah berakad nikah dengan anak saudara Tugrel Malik bernama Khadijah binti Daud bin Mika’il. Tujuannya ialah untuk memuliakan serta menyanjung Tugrel Bek, dan dengan perhubungan itu juga diharap musuh-musuh tidak berpeluangan untuk memutuskan hubungan mesra di antara kedua mereka. Khalifah al-Muqtadi telah mengawini putri Sultan Malik Syah pada tahun 475 H.
2. Penaklukkan Asia Kecil
Sebelum zaman Saljuk, penaklukan Islam kepada ke Asia Kecil. Pada masa itu kaum muslimin dari satu pihak dan kaum Byzantium dari pihak yang lain, hanya melancarkan serangan-serangan kecil yang hanya bertujuan untuk menimbulkan ketakutan satu sama lain atau untuk memperoleh harta rampasan dan barang-barang. Tetapi kaum Saljuk telah memasuki Asia Kecil melalui pertempuran-pertempuran yang bertujuan menumpas kaum Byizantium di kawasan tersebut, serta menghapuskan sama sekali kekuasaan Roma dari bumi Asia. Kaum Saljuk telah berhasil di dalam tugas ini dan telah mengalahkan tentara Byzantium pada tahun 1071 M, serta menaklukkan sebagian besar Asia Kecil yang sebelum itu tidak sempat ditaklukkan oleh orang-orang Arab. Mereka kemudian menjadikan kawasan itu sebagai tapak kaum bangsa keturunan Turki.
3. Hasysyasyin
Di antara kelompok-kelompok terpenting yang menimbulkan ketakutan di banyak negeri-negeri Islam di zaman kaum Saljuk ialah kelompok Hsysyasyin yang terkenal dengan perbutan-perbuatan kejam, menipu dan membunuh. Dari perkataan Hasysyasyin inilah lahirnya assasins dalam bahasa inggris yang berarti pembunuh atau penumpah darah.
Ketua kelompok Hasysyasyin ialah Hasan bin Sabah, yang dipercayai berdarah Parsi dari wilayah Tus. Semasa kecilnya dia telah mempelajari ajaran Mazhab Batiniah kemudian menganutnya. Pada tahun 471 H (1079 M), dia menjelajah ke Mesir untuk mempelajari lebih lanjut Mazhab Isma’iliyah. Dia pulang ke Parsi pada tahun473 H (1080 M) dengan menyebarkan seruan kaum Fatimiyah. Seruannya tiu telah mendapat sambutan dan khalayak ramai dan bersama-sama dengan para pendukungnya dia telah berhasil menaklukkan kota Alamut pada tahun 483 H.Kota yang terletak di pegunungan sebelah barat-laut Laut Kaspia ini adalah kepunyaan kaum Saljuk. Haste bin Sabah telah mendidik pengikut-penikutnya berdasarkan Mazahb Batiniah dan menyebut dirinya sebaai Da’id Du’ah (penyeru agung). Pengikut-pengikutna dibaginya dalam beberapa lapisan. Lapisan dibawahnya ialah lapisan pengembang dan penyeru, diikuti dengan lapisan pejuang-pejuang yang senantiasa bersedia menerima perintah penyeru agung, tanpa menanyakan tentang sebab-musabab perintah perintah itu. Pengembara Marco Polo telah mengunjungi Bumi Hasysyasyin itu dipertengahan kedua abad ketiga belas dan telah menggambarkan kepada kita cara-cara yang digunakan oleh Hasan bin Sabah untuk meransang pengikut-pengikutnya dari lapisan pejuang supaya menjalankan apa yang dikehendakinya.
4. Kerajaan-kerajaan yang Lahir setelah keruntuhan Kaum Saljuk
Kerajaan-kerajaan terpenting yang lahir setelah keruntuhan kaum Saljuk ialah kerajaan Khuwarizm, yang muncul setelah keruntuhan kaum Saljuk ’Izam dan Saljuk Iraq dan Kurdistan, kerajan Ghuz Turkaman yang menggantikan kerajaan Urtuqiah, kedua mengantikan keraan Saljuk Roma. Di samping semua ini ialah kerajaan-kerajaan Utabak.
5 . Bangunan di Zaman Kaum Saljuk
Kaum Saljuk sangat suka kepada bangunan-bangunan yang besar, ukiran-ukiran yang cantik dan gambar-gambar yang warna warni penuh hiasan. Benda-benda seperti ini begitu menarik pandangan mereka, menyenangkan perasaan serta mengisi kekosongan yang terdapat di dalam jiwa mereka yang masih tetap dengan tabi’at kehidupan di desa-desa dan padang pasir. Hasil-hasil seni ini sangat digemari di zaman mereka. Pada umumnya kaum saljuk itu amat menyenangi hasil-hasil seni yang indah dan memiliharanya dengan baik. Sultan-sultan memberikan perlindungan kepada hasil-hasl seni itu dan memberikan galakan kepada anggota-anggotanya.
Bangunan-bangunan Saljuk di Asfahan merupakan bukti minat mereka terhadap bidang bangunan. Mereka telah mendirikan tiang-tiang yang tinggi untuk membuat bangunan-bangunan yang besar. Dirwayatkan bahwa Alb Arislan ketika memerintahkan membuat sesuatu bangunan yang paling tinggi, paling mulia dan paling indah. Ia pernah berkata: ”Kesan-kesan kami ini adalah menunjukkan betapa tingginya cita-cita kami dan melimpahnya nikmat kami.”
Barthod menyebutkan bahwa masa pemerintahan Alb Arislan berkeistimewaan dengan kemajuan pesat dibidang seni bangunan. Dia telah membangun kembali Bukhara dan tembok madinah, dan telah membangun di Samarkand sebuah masjid yang indah dan dua buah mahligai yang besar, yang kemudian salah sebuah darinya telah dijadikan sekolah. Begitu juga ia telah memperbanyak bangunan masjid-masjid dan menara-menara di kota-kota dan desa-desa.

KESIMPULAN

Setelah membahas tentang Dinasti Saljuk, maka dapat penulis simpulkan beberapa hal diantaranya:
Pertama,Dinasti Saljuk dibangun setelah hancurnya Dinasti Buwaihi, Saljuk dinisbatkan kepada Saljuk Ibn Tuqaq (ayah Saljuk) dan pendiriannya diumumkan oleh Tugrel Beg pada tahun 429 dan diikhtiraf oleh khalifah Abbasiyah pada tahun 432.
Kedua, Kemajuan Dinasti Saljuk dalam membangun masyarakat adalah: (1) memperluas Masjid al-Haram dan masjid an-Nabawi; (2) Pembangunan rummah sakit di Naisafu; (3) pembangunan gedung peneropong bintang; dan (4) pembangunan sarana pendidikan serta bermunculnya ulama’ besar seperti Imam al-Haramyn al-Juwaini, Imam Al-Ghazali, Imam Fakhr al-Razi (ahli ilmu tafsir), Zamakhsyari (ahli ilmu tafsir), Imam al-Qusyairi (ahli ilmu tasawwuf).Dalam bidang ilmu eksaskta, muncul sejumlah ulama. Di antara mereka adalah: Umar Ibn Khayyam (ahli astronomi dan ilmu pasti), Ali Yahya al-Haslah (ahli ilmu kedokteraan); beliau menulis kitab al-Manhaj fi al-Tib, Abu Hasan al-Mukhtar (ahli ilmu kedokteran); beliau menulis kitab Dakwat at-Tib, Muhammad ali al-Samarqandi (ahli ilmu kedokteran); beliau menulis kitab Aghziarat al-Mardha.
Ketiga, Kemunduran Dinasti Saljuk disebabkan dua faktor yaitu faktor dari luar yang berupa peperangan-peperangan salib dan faktor dalam negeri berupa pemberontakan golongan Isma’iliah dari kelompok Hasysyasyin.
Keempat, Peristiwa-Peristiwa Terpenting di Zaman Saljuk yaitu: Perkawinan antara Kalangan Kaum Saljuk dengan Kalangan Bani Abbasyiah, Penaklukkan Asia Kecil, Hasysyasyin, Kerajaan-kerajaan yang Lahir setelah keruntuhan Kaum Saljuk, Bangunan di Zaman Kaum Saljuk.

DAFTAR PUSTAKA
Abd Na’im Hasanain,Salajuqah Iran wal Iraq,Tt.
A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan 3,Jakarta: PT.Al-Huzna Zikra, 1997.
Badri Yatim, Sejarah Peradapan Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,1993.
C.E.Bosworth,”Barbarian Incursions:The Coming of turks into the islamic Word” dalam D.S.Islamic Civilsation, 950-1150. Oxford:Bruno Cassirer Ltd., 1973.
Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: UI:Press,1985.
Imadud Din al-Isfahani, Tarikh Aal Saljuk,Tt.
Syaqif A. Mughny, Sejarah Kebudayaan Islam di Kawasan Turki, Ciputat:logos, 1997.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar